Kelar ngambil adegan terakhir untuk film
pendek berjudul Go To Home, shalat
ashar, dan transfer data, kami (saya, Rina, Echi, dan Dhini) bergerak menuju
halte busway terdekat. Tiga gadis kiyut
calon wartawati ini membantu saya banget
dari awal. Thanks a lot, girls.
Ketika busway datang, Rina langsung menyuruh saya masuk ketimbang menunggu Echi
dan Dhini. Dengan alasan: takut kemalaman. Saya sadari memang, Jakarta masih
belum terlalu friendly buat saya.
Bus
Transjakarta jurusan Cawang-Uki itu tak menyediakan satu kursi atau satu
pegangan tangan pun untuk saya. Huhu… selain berdiri dan desak-desakkan dengan
kaum wanita lainnya, saya juga menguatkan diri supaya tidak tumbang. Maklum,
ketika bus berlari, shaking-nya luar
biasa terasa (terutama bagi yang berdiri). Perjalanan yang seharusnya
dinikmati, berubah fungsi menjadi ajang latihan keseimbangan diri.
Langit yang
saya lihat dari balik jendela sudah berubah warna. Saya tengok jam di ponsel.
Jam 18 lebih. Aduh, belum shalat maghrib, euy.
Masih ada satu busway lagi yang harus saya tumpangi. Setelah itu, turun di
Pasar Rebo memburu Agra Mas jurusan Karawang. Ketika mulai menapaki lantai
halte Cawang-Uki, saya mulai celingak-celinguk. Nanya ke beberapa orang tempat
menunggu halte jurusan Kampung Rambutan. Sebenarnya, sih, ada petunjuknya, tapi
emang dasarnya saya, kalau fakta yang dikumpulkan belum begitu lengkap, hati
belum mantep!
Inilah puncak
luapan emosi dari perjalanan saya pulang. Selama lebih dari satu jam saya
nunggu busway. Itu artinya kurang lebih dua jam saya berdiri. Saya sempat
dipersilahkan seorang murid SMA untuk duduk, tapi itu tidak berlangsung lama
karena saya tidak ingin berada di antrian paling belakang. Bus jurusan Kampung
Rambutan yang mampir rata-rata kelebihan muatan. Saya terpaksa balik lagi
karena Petugas bilang sudah penuh. Bus yang melenggang di depan mata kebanyakan
jurusan Pluit, Ancol, dan PGC. Beberapa pengunjung bahkan keluar halte dan
memilih angkutan umum lain karena sudah terlalu lama menunggu.
Saya
berkali-kali tengok jam. Lalu, terdengar sayup-sayup kumandang adzan isya,
membuat perasaan ini semakin tidak karuan. Saya takut sekali. Ketika melihat
Maya Sari Bakti jurusan Bekasi dan Cikarang di seberang sana, saya sempat
berpikir jika tidak ada bis ke Karawang, saya akan naik bis itu. Meski saya
punya pengalaman naik bis jurusan Bekasi atau Cikarang, tapi saya belum terlalu
berani. Selain karena saya anak perempuan, saya pun takut nyasar. Soalnya, pada
kasus-kasus dulu itu (waktu nonton Kick Andy dan konser Bigbang) saya tidak
sendirian naiknya. Oalah!
Sambil menatapi
langit, saya terus berdoa (bahkan sempat menitikkan airmata). Istigfhar dan
bertasbih juga. Kemungkinan terburuk terus membayangi. Tapi, saya terus
meyakini bahwa Allah punya rencana yang baik. Mungkin, saya tertahan lama
disini agar saya punya pengalaman berharga. Membuka mata pada keadaan sekitar.
Sungguh, betapa sulitnya menerapkan kesabaran. Wajah-wajah lelah. Kekacauan
lalu lintas. Gemerlap kota besar. Banyak karakter dan peristiwa disini yang
bisa saya comot sebagai bahan tulisan.
Hampir jam
delapan. Untuk kesekian kalinya niat pergi dari halte diurungkan. Saya masih
berharap bis datang. And, a short time later, benda ratusan juta
rupiah itu hadir di depan mata. “Alhamdulillah…” saya bergumam. Saya yang
ngantri paling depan lekas masuk. Bus yang ini tidak sesumpek bus Cawang-Uki.
Meski tidak dapat tempat duduk, saya dapat ruang bernafas yang cukup banyak dan
dapat pegangan tangan. “Terima kasih, ya, Allah…” saya terharu hingga
meneteskan airmata lagi. Tidak sampai menangis sesenggukan, nanti disangka
macam-macam sama orang.
Masih belum ada
kelegaan dalam dada. Saya hanya punya waktu kurang lebih satu jam lagi. Agra
beroperasi sampai jam 9 malam soalnya. Kini, bukan jalanan yang jadi objek
pandang, tapi jam digital yang nemplok di area kemudi. Saya terus mengukur
waktu––meski selalu melenceng dari perkiraan. Saya gregetan karena bus ini
leletnya minta ampun. Bus ini juga pasrah sekali saat ada kendaraan lain
menghalangi pergerakannya atau masuk ke jalur busway. Haduh…ingin rasanya ambil
alih kemudi.
Saya pasrah.
Mau marah-marah pun rasanya impossible.
Bisa ditendang keluar dan jadi bahan olok-olok nanti. Singkat cerita, bus sudah
nyampe halte Pasar Rebo. Saya
menerobos penumpang lain agar dekat dengan pintu. “Sabar, Mbak, sabar…” celetuk
penumpang yang saya senggol, “disini juga banyak yang mau turun,” sambungnya.
“Ngejar bis
soalnya, Mbak,” balasku sambil mesem. Begitu pintu dibuka, saya bergegas
keluar. Dari halte Pasar Rebo, saya lari menuju tempat pemberhentian bis. Saya
sempat tanya dimana bis Karawang, dan disuruh nunggu. Saya tidak nurut.
Setengah berlari saya menyusuri jalan yang banyak dihalangi kios penjaja aneka
barang murah meriah dan bis luar kota itu. Di ujung sana, mata yang terhalangi
kacamata minus 2,75 ini menangkap bis yang tak begitu asing. Namun, apakah ini
fatamorgana di tengah keputusasaan? Beberapa kali saya pernah mengalaminya.
Agra Mas jurusan Bogor dikira jurusan Karawang. Haha…, tapi, kali ini Karawang
itu benar-benar Karawang. Alhamdulillah, saya berteriak dan berjingkrak dalam
imajinasi. Allah memang selalu menunjukkan kekuasaanNya. Saya meyakini itu
sejak dulu.
Ketika masuk
bis, sejauh mata memandang, penumpang terlihat laki-laki semua. Waduh! Tapi,
enggak apa-apa, deh. Yang penting bisa pulang. Pokoknya, hari ini benar-benar
menguras tenaga dan emosi.
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar