Rabu, 25 September 2013

Pulang ke Karawang


Kelar ngambil adegan terakhir untuk film pendek berjudul Go To Home, shalat ashar, dan transfer data, kami (saya, Rina, Echi, dan Dhini) bergerak menuju halte busway terdekat. Tiga gadis kiyut calon wartawati ini membantu saya banget dari awal. Thanks a lot, girls. Ketika busway datang, Rina langsung menyuruh saya masuk ketimbang menunggu Echi dan Dhini. Dengan alasan: takut kemalaman. Saya sadari memang, Jakarta masih belum terlalu friendly buat saya.
Bus Transjakarta jurusan Cawang-Uki itu tak menyediakan satu kursi atau satu pegangan tangan pun untuk saya. Huhu… selain berdiri dan desak-desakkan dengan kaum wanita lainnya, saya juga menguatkan diri supaya tidak tumbang. Maklum, ketika bus berlari, shaking-nya luar biasa terasa (terutama bagi yang berdiri). Perjalanan yang seharusnya dinikmati, berubah fungsi menjadi ajang latihan keseimbangan diri.
Langit yang saya lihat dari balik jendela sudah berubah warna. Saya tengok jam di ponsel. Jam 18 lebih. Aduh, belum shalat maghrib, euy. Masih ada satu busway lagi yang harus saya tumpangi. Setelah itu, turun di Pasar Rebo memburu Agra Mas jurusan Karawang. Ketika mulai menapaki lantai halte Cawang-Uki, saya mulai celingak-celinguk. Nanya ke beberapa orang tempat menunggu halte jurusan Kampung Rambutan. Sebenarnya, sih, ada petunjuknya, tapi emang dasarnya saya, kalau fakta yang dikumpulkan belum begitu lengkap, hati belum mantep!
Inilah puncak luapan emosi dari perjalanan saya pulang. Selama lebih dari satu jam saya nunggu busway. Itu artinya kurang lebih dua jam saya berdiri. Saya sempat dipersilahkan seorang murid SMA untuk duduk, tapi itu tidak berlangsung lama karena saya tidak ingin berada di antrian paling belakang. Bus jurusan Kampung Rambutan yang mampir rata-rata kelebihan muatan. Saya terpaksa balik lagi karena Petugas bilang sudah penuh. Bus yang melenggang di depan mata kebanyakan jurusan Pluit, Ancol, dan PGC. Beberapa pengunjung bahkan keluar halte dan memilih angkutan umum lain karena sudah terlalu lama menunggu.
Saya berkali-kali tengok jam. Lalu, terdengar sayup-sayup kumandang adzan isya, membuat perasaan ini semakin tidak karuan. Saya takut sekali. Ketika melihat Maya Sari Bakti jurusan Bekasi dan Cikarang di seberang sana, saya sempat berpikir jika tidak ada bis ke Karawang, saya akan naik bis itu. Meski saya punya pengalaman naik bis jurusan Bekasi atau Cikarang, tapi saya belum terlalu berani. Selain karena saya anak perempuan, saya pun takut nyasar. Soalnya, pada kasus-kasus dulu itu (waktu nonton Kick Andy dan konser Bigbang) saya tidak sendirian naiknya. Oalah!
Sambil menatapi langit, saya terus berdoa (bahkan sempat menitikkan airmata). Istigfhar dan bertasbih juga. Kemungkinan terburuk terus membayangi. Tapi, saya terus meyakini bahwa Allah punya rencana yang baik. Mungkin, saya tertahan lama disini agar saya punya pengalaman berharga. Membuka mata pada keadaan sekitar. Sungguh, betapa sulitnya menerapkan kesabaran. Wajah-wajah lelah. Kekacauan lalu lintas. Gemerlap kota besar. Banyak karakter dan peristiwa disini yang bisa saya comot sebagai bahan tulisan.
Hampir jam delapan. Untuk kesekian kalinya niat pergi dari halte diurungkan. Saya masih berharap bis datang. And, a short time later, benda ratusan juta rupiah itu hadir di depan mata. “Alhamdulillah…” saya bergumam. Saya yang ngantri paling depan lekas masuk. Bus yang ini tidak sesumpek bus Cawang-Uki. Meski tidak dapat tempat duduk, saya dapat ruang bernafas yang cukup banyak dan dapat pegangan tangan. “Terima kasih, ya, Allah…” saya terharu hingga meneteskan airmata lagi. Tidak sampai menangis sesenggukan, nanti disangka macam-macam sama orang.
Masih belum ada kelegaan dalam dada. Saya hanya punya waktu kurang lebih satu jam lagi. Agra beroperasi sampai jam 9 malam soalnya. Kini, bukan jalanan yang jadi objek pandang, tapi jam digital yang nemplok di area kemudi. Saya terus mengukur waktu––meski selalu melenceng dari perkiraan. Saya gregetan karena bus ini leletnya minta ampun. Bus ini juga pasrah sekali saat ada kendaraan lain menghalangi pergerakannya atau masuk ke jalur busway. Haduh…ingin rasanya ambil alih kemudi.
Saya pasrah. Mau marah-marah pun rasanya impossible. Bisa ditendang keluar dan jadi bahan olok-olok nanti. Singkat cerita, bus sudah nyampe halte Pasar Rebo. Saya menerobos penumpang lain agar dekat dengan pintu. “Sabar, Mbak, sabar…” celetuk penumpang yang saya senggol, “disini juga banyak yang mau turun,” sambungnya.
“Ngejar bis soalnya, Mbak,” balasku sambil mesem. Begitu pintu dibuka, saya bergegas keluar. Dari halte Pasar Rebo, saya lari menuju tempat pemberhentian bis. Saya sempat tanya dimana bis Karawang, dan disuruh nunggu. Saya tidak nurut. Setengah berlari saya menyusuri jalan yang banyak dihalangi kios penjaja aneka barang murah meriah dan bis luar kota itu. Di ujung sana, mata yang terhalangi kacamata minus 2,75 ini menangkap bis yang tak begitu asing. Namun, apakah ini fatamorgana di tengah keputusasaan? Beberapa kali saya pernah mengalaminya. Agra Mas jurusan Bogor dikira jurusan Karawang. Haha…, tapi, kali ini Karawang itu benar-benar Karawang. Alhamdulillah, saya berteriak dan berjingkrak dalam imajinasi. Allah memang selalu menunjukkan kekuasaanNya. Saya meyakini itu sejak dulu.
Ketika masuk bis, sejauh mata memandang, penumpang terlihat laki-laki semua. Waduh! Tapi, enggak apa-apa, deh. Yang penting bisa pulang. Pokoknya, hari ini benar-benar menguras tenaga dan emosi.
*